Reposting : Bentuk Ideal Penyelenggaraan Pasar Malam Sekaten
Bertemu lagi dalam postingan saya.
Kali ini bukan 100% hasil karya saya, karena di judulnya pun telah tertera dengan jelas bahwa ini adalah Re-Post dari sebuah Jurnal. Kemarin karena alasan iseng, saya jalan-jalan bersama Mbah Google, hingga menemukan suatu artikel yang dimuat di suatu milist. Tulisan ini adalah hasil karya dari Bp. M. Hudi Asrori S. ( apakah ini seratan, Paklik? Nyuwun ngapunten, kula posting wonten blog, hanya sekedar untuk mengabadikan..
Oleh: M Hudi Asrori S
PERAYAAN Sekaten yang dimulai pada zaman Kerajaan Demak, merupakan hasil karya para wali untuk mensyiarkan agama Islam. Perayaan Sekaten ini memang hanya berada di Indonesia, khususnya Jawa, sehingga nuansa yang terasakan lebih bersifat Njawani daripada Islami. Melalui alunan Gendhing-gendhing Soran yang lembut dari dua perangkat Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo, sangat berkesan di hati setiap pendengarnya. Nuansa seperti inilah yang diinginkan oleh para Wali untuk melakukan dakwah Islamiyah kepada masyarakat Jawa. Hal ini sangat efektif, karena menggunakan media seni tradisional rakyat, mengembangkan simbolisasi kehidupan religius rakyat, dan didukung oleh pengaruh kewibawaan raja.
Oleh karenanya keberadaan Sekaten dan perayaannya sangat melekat di hati rakyat, bahkan hingga saat ini. Namun, misi dan visi Sekaten itu pada perkembangannya sudah tidak diperhatikan lagi oleh penyelenggara yang dipercayakan kepada pemerintah daerah (kota). Sekarang ini, pada kenyataannya, perhatian pengunjung perayaan Sekaten bukan lagi ke alunan gending Sekaten dan dakwah Islamiyah, tetapi terkonsentrasi pada pasar malam yang berupa stand-stand perdagangan, permainan, yang hingar bingar dengan musik keras sebagai daya tariknya.
Mungkin masyarakat (baca: pengunjung pasar malam Sekaten) sekarang sudah tidak lagi mengenal Pagongan dan Gamelan, serta bunyi Sekaten itu sendiri. Apalagi nilai filosofi atau simbolik yang terkandung, blas, tidak mudheng lagi. Ironis memang, tetapi karena memang tidak difasilitasi secara profesional oleh panitia penyelenggara maka kondisi demikian akan terus berlangsung, bahkan lebih menyedihkan lagi bagi eksistensi Sekaten itu sendiri. Pada puncaknya, penyelenggaraan Sekaten tidak lagi berorientasi nilai religi dan tradisi, tetapi bisnis berpayung keanggunan Sekaten.
Peluang Bisnis
Tidak dapat dipungkiri, multy effects dari kegiatan pasar malam Sekaten sangat menguntungkan berbagai pihak, dan menjadi peluang bisnis yang efektif baik dalam bentuk pasar ataupun promosi. Dari kegiatan pasar malam, dapat kita hitung berapa jumlah tenaga kerja dapat tertampung, berapa produk barang ataupun jasa dapat dipasarkan. Pada posisi yang sangat menguntungkan ini, arena Pasar Malam Perayaan Sekaten membuka peluang sangat besar bagi kalangan pelaku bisnis, dengan (sebetulnya) tidak perlu menambah biaya promosi, karena telah terfasilitasi keanggunan nama Sekaten. Bandingkan dengan penyelengaraan perayaan pasar malam yang lain. Namun, tidak pantas kiranya penyelenggaraanya justru melakukan penekanan dan pemaksaan dengan mengesampingkan nilai dan nuansa Sekaten yang tradisional. Oleh karenanya perlu dilakukan penataan yang mengombinasikan antara kepentingan tradisional dan kepentingan modernitas.
Bagaimanapun kedua hal tersebut sangat perlu untuk dikembangkan bersama-sama secara harmonis. Pengabaian terhadap salah satu kepentingan di atas, justru, akan berakibat negatif terhadap peluang bisnis di Pasar Malam Perayaan Sekaten.
Pemanfaatan Lahan
Memperhatikan secara cermat penyelenggaraan Pasar Malam Perayaan Sekaten dua tahun terakhir, gaungnya kurang bergema. Pertama, pemanfaatan lahan di Alun-Alun Lor, dengan penutupan seluruh areal dan setting airdome, ternyata tidak efektif dan efisien, sehingga di dalam Alun-Alun Lor masih banyak lahan yang mubadzir.
Kedua, penutupan seluruh areal dengan pagar tinggi telah menghilangkan nuansa keanggunan Alun-Alun Lor, termasuk Masjid Gede, sebagai satu bagian dari keraton. Kesan yang muncul, bahwa penyelenggaraan pasar malam ini hanya mengedepankan kepentingan bisnis, tanpa menghiraukan lagi kepentingan tradisi. Padahal, harus disadari, semegah apapun penyelenggaraan suatu pasar malam di alun-alun lor, tentu akan lain keberhasilannya jika tidak diberi label Sekaten.
Ketiga, hasil wawancara (lisan dan tak terstruktur)dengan sementara pengunjung, menunjukkan dirasakan kurang nyaman, karena harus mengikuti jalur pameran yang panjang dan sangat melelahkan, terlebih bagi anak-anak yang segera ingin menikmati arena permainan.
Harga karcis masuk mahal, sehingga banyak pengunjung yang harus terpaksa tetapi lebih senang menikmati pasar malam di luar pagar. Memang dapat dihitung, satu keluarga ideal, berjumlah 4 orang (ayah, ibu dan 2 anak) yang hanya akan masuk arena pasar malam-airdome harus mengeluarkan biaya Rp 14.000. Belum biaya yang lain. Sebagai catatan, mungkinkah pengunjung Pasar Malam Sekaten tidak terjangkau oleh Perlindungan hak-haknya selaku konsumen. Dasar pertimbangan:
- bahwa Pasar Malam Sekaten merupakan hak publik yang dimiliki sejak dahulu kala,
- pemerintah kota, sebagai pelaku jasa layanan publik, dengan tidak sengaja telah melakukan pemaksaan terhadap hak-hak rakyat untuk menikmati tradisinya.
Berdasarkan uraian tersebut, saya mempunyai pemikiran bahwa penyelenggaraan Pasar Malam Perayaan Sekaten harus ditata lebih cermat lagi yang dapat menampung berbagai kepentingan di dalamnya. Pertama, penyelenggaraan pasar malam Sekaten, seyogianya Alun-Alun Lor tidak ditutup rapat dengan pagar (tinggi) seperti akhir-akhir ini. Hal ini dimaksudkan agar nuansa Alun-Alun Lor sebagai salah satu bagian yang tak terpisahkan dengan Keraton serta Masjid Gede tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh masyarakat. Yang lebih penting, tidak nyingkur Kraton dan tradisinya, serta tidak menghilangkan hak masyarakat, selaku konsumen jasa layanan publik, untuk menikmati tradisi leluhurnya.
Kedua, penataan peruntukan lahan. Untuk dapat menampung semua kepentingan, maka di dalam penyelenggaraan pasar malam Sekaten, seyogianya Alun-Alun Utara di bagi menjadi empat bagian kegiatan, yaitu:
- sisi sebelah Tenggara untuk areal pertunjukan, misalnya sircus, panggung terbuka, atau yang lain. Biasanya tiap tahun bergantian dengan jenis pertunjukan lain, seperti Lumba-Lumba, dll.
- sisi sebelah Barat Daya, untuk areal permainan anak-anak, misalnya ombak banyu, dll.
- sisi sebelah barat laut, untuk areal stand komoditas dagangan sektor informal, misalnya pakaian jadi, mainan anak-anak berkualitas standar. (4) sisi sebelah Timur Laut, untuk areal perdagangan-promosi (airdome). Seyogianya dalam airdome ini, hanya diperuntukkan bagi komoditas perdagangan berkualitas sangat baik, misalnya otomotif, elektronik, dll.
Keempat, faktor tradisi. Untuk memfasilitasi eksistensi Sekaten itu sendiri, pada saat 6 hari Sekaten, menara siaran pada jam-jam terentu (prime time: 19.00-20.00) menyiarkan secara langsung bunyi Gamelan Sekaten dari Pagongan Masjid Gede sehingga terdengar di seluruh arena Sekaten. Kalau perlu, dalam tata tertib ditentukan bahwa selama siaran langsung Gamelan Sekaten, stand-stand tidak diperbolehkan membunyikan sound system (agak sulit, memang). Peran Prajurit dan Abdi Dalem Keraton lengkap dengan pakaian dinas kebesarannya, perlu ditampilkan, untuk piket di tempat-tempat strategis (sebagaimana mestinya) dalam lingkup Kraton (Kompleks Pagelaran, Regol Masjid Gede, dan Pagongan Lor-Kidul). Daya dukung media audio visual sangat diperlukan. RRI dan Radio Swasta, khusus pada saat Sekaten, diwajibkan menyiarkan (rellay) siaran langsung Gendhing Sekaten, dan informasi kegiatan Sekaten. Pengamatan penulis, banyak sekali pengunjung yang kecelik waktu Mandhap Gongso dan Kundur Gongso beserta Grebegnya, yang sering tidak bersamaan dengan Kalender Masehi.
*) M Hudi Asrori S, Juara Pertama Lomba Penulisan Esai Sekaten, Kerja Sama Pusat Studi Pariwisata UGM dengan SKH Kedaulatan Rakyat.
Hemmm,,, jadi inget jaman kecil.. Dahulu, pada saat digelar Sekatenan ini, saya diajak Bapak dan Ibu untuk mengunjungi. Jujur, yang tertanam di benak waktu itu : Sekaten = Pasar Malam, karena di jaman saya kecil itu pun sudah banyak pedagang yang meramaikan sekaten ini. Pertunjukan yang digelar pada waktu itu hanya ada sirkus. Permainan anak-anak juga sudah banyak seperti komedi putar, ombak banyu, dremolem (gak tau gimana persis penulisannya), dsb. Sepintas, sambil jalan-jalan, Bapak menerangkan kalau sekaten ini awalnya adalah Sarana Syiar Islam. Sekaten berasal dari kata Syahadatain (2 kalimah Syahadah). Sempat pula saya dibawa ke Masjid Gedhe dan ditunjukkan gamelan-gamelan yang biasa dibunyikan di perayaan sekaten. namun pada waktu itu gamelan masih ditutup dengan lawon/kain mori karena belum waktunya untuk ditabuh.. Oh ya, alun-alaun Lor pada saat itu tidak dipagari keliling seperti sekarang.
Memang harusnya perayaan ini tidak mengubah/meninggalkan dari ruh sejarah asal muasal diadakannya sekatenan ini, meskipun jaman terus berjalan.. dan kita sebagai generasi muda, hendaknya tetap harus melestarikan budaya yang diwariskan turun temurun ini..
Duhh,,, jadi inget perahu othoq-othog, telur merah dan arum manis nie….
Arrgghhh….
Baru nyadar kalo postinganku selama ini gak penting semuaa…
maafkan ya, para pembaca,,, blog ini tidak berbobot sama sekali
benar kata Mr. falih bahwa blog ini hanya sekedar tempat curhat…
Buat adek-adeku, jangan ditiru ya,,, postinglah sesuatu yang bermutu untuk pembaca
maaf jika Anda termasuk orang yang tersasar di blog ini…
maaf, sekali lagi maaf….
Semoga di lain kesempatan bisa menulis sesuatu yang lebih bermutu
Ugh…..
Setelah skian lama absen dari dunia per blog an,, tangan ni tetap aja malas menari di atas tuts… hingga moment pergantian tahun pun tak kuasa untuk diabadikan dalam blog. Padahal dalam beberapa bulan terakhir banyak hal yang telah terjadi,,, Mutasi, perpisahan, pernikahan, rolling seksi, pokoknya, banyaklah… sudah tiga kali juga saya pulang ke kampung halaman sejak tulisan saya terakhir terposting. Yah, waktu terus berjalan, Sobat… Kehidupan terus meniti di garis hidupnya.. Selamat Melanjutkan Hidup, Sobat…
Sekedar absen di blogspot ajah
PS : aku masih single loh…
Off dulu
Sehubungan dengan hilangnya mood menulis, maka blog ini untuk sementara waktu akan menghibernasi diri sampai dengan jangka waktu yang tidak ditentukan..
Namun sebelum bener-bener menghibernasi diri, ada sesuatu hal yang saya dapet dari temen sekantor saya, Mas Pujo hardono tenantng makna dari huruf Jawa : Honocoroko, dst..
Hanacaraka (ana utusan),
Datasawala (padha padudon),
Padhajayanya (padha digdayane), lan
Magabathanga (padha dadi bathang/sampyuh).
Ha (H)urip, Na (nur), C (cahya), Ra (roh/rasa), Ka (kumpul),
Da (dadi), Ta (tetes), Sa (sawiji), Wa (wadon), La (lanang),
Pa (pati), Dha (dhadhal), Ja jiwa (raga), Ya (ya Allah), Nya (nyata),
Ma (manungsa), Ga (gilir gumanti), Ba (bakal), Tha (thukul), Nga (ngalam donya).
Ateges Urip (asal saka) nur cahya (lan) roh (kang) kumpul dadi tetes sawiji (nuwuhi) wadon (lan) lanang, (samangsa tumekeng) pati, (bakal) dhadhal jiwa ragane, ya Allah, nyata manungsa gilir gumanti bakal thukul (ing) ngalam donya.
hemmm
GTO Banjir (lagi?!)
Hemm,, lagi-lagi Gorontalo banjir..
Hari itu, Ahad, 26 Oktober 2008, sedianya Paguyuban Keuangan Provinsi Gorontalo yang beranggotakan instansi vertikal DepKeu dan mitra kerjanya (bank, pos, taspen, n asuransi) yang berada di Provinsi Gorontalo, mengadakan acara jalan santai dan donor darah dalam rangka memperingati HUT Keuangan RI. Agenda acara dimulai pukul 06.00 WITA, start n finish di halaman Kanwil XXVI Ditjen PBn GTO.
- 05.00 WITa masih nonton tipi, nunggu air panas n siap2 membuka PoP Mie..
- 05.30 WITa weee lhadalah, kowq hujan turun… hemm, jadi engga ya??
- 06.00 WITa temen nyamperin ke kamar sebelah lengkap membawa mertua, istri dan bayi chinese nya.. hujan turun lumayan deras
- 06.30 WITa dengan mengenakan pakaian OR lengkap plus topi, saya berjalan menuju ruas jalan. Hujan masih rintik.. peserta jalan santai mulai bergerak. Tiba2 ada yg memanggil : “Mbaaaakkk”. Menoleh ke kiri, tampak seorang makhluk bernama Ridho telah berdiri di sudut perempatan. karena niat dari semalam pengen ikut mbagiin kupon snack, saya pun berjalan ke arahnya.
- peserta kemudian mulai melintas di depan kami. nampak para pejabat turut berpartisipasi dalam jalan santai itu.
- 07.00 WITa satu dua peserta talah mengambil kupon snack yang berarti hampir mendekati finish. dan hujan pun semakin deras. banyak dari mereka yang naik bentor dan mobil. kami pun menyodorkan kupon snack kepada para peserta yang kehujanan itu. acara jalan santai bubar..
- 07.15 WITa karena semakin deras, saya memutuskan untuk pulang ke kosn dan berganti baju, sbelum pergi ke Kanwil untuk sekedar melihat-lihat swasana. namun niat itu saya urungkan karena hujan sangat deras mengguyur. sebagai alternatif, saya pun menonton acara televisi sambil sesekali menyeruput teh tubruk..
Sesiangan itu hujan mereda sesaat untuk kemudian turun lagi dengan sangat derasnya.
Sore hari, selepas mandi, hujan sudah tidak turun lagi. Bergegas saya keluar untuk membuang sampah. Ternyata tanpa saya sadari, bumi ini bergoyang. Tetangga kamar tergesa keluar bersama si Daffy di dekapan berteriak “Gempa, Budhe!!”!! Ohh, saya sama sekali tidak merasakan karena dalam posisi berdiri. Namun kabel listrik yang melintas di tepi jalan masih terlihat bergoyang-goyang. Saya kemudian memanggil bentor, berniat untuk membeli sesuatu di supermarket. Hemm, parit di sekitar kosn ternyata sudah meluber. Tidak biasany
a hal ini terjadi. Beberapa sungai di tepi ruas jalan juga terlihat hampir meluap airnya..
Selepas Isya, hujan tak terkira derasnya turun lagi, demikian seterusnya hingga semalaman hujan turun tiada reda. Alhasil Senin subuh, , 27 Oktober 2008, begitu melongok ke jendela, halaman tampak sudah tergenang air.
Gorontalo banjir seharian itu. Kantor tetep beroperasi meski stakeholders yang datang, bisa dihitung. yang terlihat dimana-mana adalah air, air, dan air. Ironisnya, meski air terlalu melimpah, namun kami sempat kesulitan air bersih karena PAM mati. hemm, efek dari banjir..
Pernikahan itu..
Cerita dibalik foto: dulu, sekian tahun yang lalu, kami pernah foto bertiga di moment pernikahan Lik Hudi dan Bulik Ita. Ternyata tanpa sengaja, sambil menunggu prosesi akad nikah selesai, kemarin kami mengulanginya lagi…
Ups, maaf, dalam beberapa waktu terakhir saya menghibernasi diri. Mood menulis tiba-tiba hilang karena alasan jetlag dan banjir…
Pertengahan Oktober kemarin saya pulang lagi ke Bantul. Ada suatu perhelatan yang digelar oleh salah satu kerabat. Yah, pernikahan cucu tertua menurut silsilah dari keluarga besar Bapak.
Sepupu saya, putri pertama dari Pakde, menikah tepat di hari ulang tahunnya yang ke 24..
Seneng banget rasanya karena kemarin keluarga bisa ngumpul semua. Acara digelar duwa hari, Sabtu pagi untuk akad, dan Ahad pagi untuk resepsi. Tempat penyelenggaraan duwa-duwanya di rumah. Alhamdulillah smuanya lancar.
Konsep resepsi dirancang simpel tanpa adat. Busana pengantin modern namun dengan tata rias khas pengantin Jogja. Yang menarik adalah dekorasi pelaminannya bener-bener tanpa gebyok. murni, hanya memanfaatkan pintu rumah. Dan, busana para kerabat pria itu lho, Paklikku sengaja memilih surjan lurik, bukan surjan motif lain, jadi ya kliatan klasik banget.
Yang jelas, dari moment kemarin, bisa mempererat tali silaturahim para anggota kerabat..
Hemm, jadi pengen kumpul2 lagi dalam moment yg serupa nie..
Buat Mba Iik dan Mas Danang, selamat menempuh hidup baru, semoga sakinah ma waddah wa rohmah..
Buat Mas Aan, Mas Arif, Mba Uli, Mas Zaman, de Mazdan, de Awang, de Biymoo, dan de Danti, ngumpul-ngumpul lagi yuks…
(hihihi, biar Mr. Falih tambah menghujat, bahwa isi blogkuw adalah curhat ![]()
)
Serangkai Sedap Malam
Ada satu pernik yang menghiasi ruang kamar tamu keluarga saya setiap Lebaran. Yup, rangkaian bunga sedap malam a.ka.a arum ndalu.
Dari Wikipedia, saya tahu bahwa:
Sedap malam (Polianthes tuberosa) adalah tumbuhan hijau abadi dari suku Agavaceae. Nama tuberosa menunjukkan bahwa tumbuhan ini memiliki umbi (tuber).
Bunga sedap malam biasa mekar di malam hari. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Meksiko.
Nama bunga ini di India bagian timur adalah ratkirani, yang berarti “ratu malam”. Di Singapura bunga ini dinamakan xinxiao, yang berarti “tempat ngengat hinggap”. Di Persia, bunga ini disebut maryam, yang merupakan nama umum bagi anak perempuan. Bunga ini juga digunakan di Hawaii untuk pengantin dan dahulu di zaman Viktoria digunakan sebagai bunga kuburan. Harum bunga ini digambarkan sebagai kompleks, eksotis, manis, dan khas bunga.
Sore menjelang takbiran, biasanya saya dan Bapak berkeliling-keliling kota mencari bunga berwarna putih nan harum ini, sementara ibu di rumah mempersiapkan toples-toples hidangan lebaran, dan ade, biasa di Pondok atau di Masjid, bergabung dengan teman-temannya.
Sayang seribu sayang, belum ada kios penjual bunga segar di Bantul. Jadi, pencarian Saya dan Bapak sore itu pun berakhir di tempat yang biasa kami datangi yakni di Jl. Jazuli, Kotabaru, di dekat RRI, di depan Wisma Anggaran. Memang di sepanjang jalan inilah terpusat kios para penjual bunga segar di Jogjakarta.
Suasana sore di sepanjang kios bunga lumayan ramai, sama seperti tahun yang lalu. Mungkin memang karena moment lebaran ini, banyak orang yang mencari bunga segar untuk mempercantik ruangan. Diantara pengunjung kios yang ada pada saat itu, kebanyakan dari mereka membeli bunga sedap malam, termasuk saya.
Harga per tangkai cenderung naik dari tahun ke tahun dan selalu lebih mahal dibanding hari-hari biasa. Satu tangkai sedap malam pada sore itu ditawarkan seharga Rp. 7500,-. Setelah meminta harga pas, akhirnya angka pun turun diharga Rp. 6000,-/tangkai. Tahun lalu, saya masih bisa mendapatkan Rp. 4500,-/tangkai. Tahun sebelumnya lagi, antara Rp. 2.500 – Rp. 3.000,-, dimana pada saat itu, harga normal setangakai sedap malam adalah Rp. 1.500,-.
8 tangkai sedap malam akhirnya saya boyong pulang. Sembari melihat mba penjaga kios mengemas sedap malam pesanan, saya meminta sedikit daun cemara kepadanya. Daun cemara ini berharga Gratis alias ra mbayar.. (makasih ya, Mba, bonus atas pembelian sedap malamnya yah?!).
Setelah transaksi jual beli selesai, saya dan Bapak pun langsung pulang ke Bantul yang memakan waktu sekitar 40 menit dari Jl. Jazuli tadi. Dan pada malam takbiran, terangkailah 8 tangkai sedap malam dan daun cemara, memenuhi sebuah vas gerabah, menghiasi ruang tamu kami..



